Home > 1 > Nik Aziz kata isteri nabi berdemonstrasi dengan Nabi?

Nik Aziz kata isteri nabi berdemonstrasi dengan Nabi?

Nik Aziz Mursyidul AM PAS… Kata kata beliau sangat didengar dan ditaati dengan penuh patuh dan taat oleh ahli dan pro PAS lantaran ‘kefanatikan’ mereka kepada serban jubah dan cakap cakap beralaskan Quran dan Sunnah…

Namun saya sedikit keliru di saat saat negara kita ‘diserang’ dengan kenaikan minyak sedunia, Nik Aziz suka suka kaitkan perbuatan penyokongnya yang berdemonstrasi hari ini dengan sikap isteri nabi yang berdemonstrasi.Lihat minit ke 6 video di atas….. Kata kata yang saya jangka akan mengundang seribu polemik dan kritikan pedas dari seluruh negara.

Isteri nabi tidak sejahat yang digambark Nik Aziz ini. Mereka sangat beradab dengan Nabi dan otak kita yang kotor sahajalah yang menjadikan ‘ gambar’ isteri Nabi sangat buruk di mata dan fikiran kita.

Isteri nabi berdemonstrasi ? Ulang lagi ! pasti kita akan dengar banyak edisi terbaru ‘ carutan’ Nik Aziz ini ..

Mana pula dalil dalil menentang kerajaan ? minta kerajaan turun ??

PEMBERONTAKAN & MENCELA PEMERINTAH!!! – Syi’ar Kaum Khawarij Zaman-Berzaman

Sumber: http://bahaya-syirik.blogspot.com

SECARA RINGKAS: MENTAATI PEMERINTAH ADALAH SYI’AR-NYA AHLUS SUNNAH

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menyatakan wajib ta’at kepada waliyyul amri dan tidak boleh memberontak terhadap mereka, sama ada penguasa yang ‘adil mahupun penguasa yang zalim, selama belum tampak daripada mereka kekufuran yang nyata, dengan mengembalikan keputusan kufur atau tidaknya kepada para ‘ulama ahlus sunnah. Inilah manhaj dan syi’ar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sepanjang zaman hingga akhir zaman. Prinsip ini mereka tegakkan di atas hujjah dan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Di antaranya:

Firman Allah s.w.t.:

Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah, ta’atilah Rasul, dan ulil amri (‘pemerintah) dari kalangan kalian. (an-Nisa’ 4: 59)

Dari al-Harits bin Basyir, bahawa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam (s.a.w.) bersabda:

Aku perintahkan kalian dengan lima perkara, yang Allah telah memerintahkan aku dengannya: Mendengar, Ta’at (kepada pemerintah), Jihad, Hijrah, dan (berpegang teguh dengan) al-Jama’ah”. (Hadis Riwayat Ahmad 6/202; at-Tirmidzi, no. 2863; Ibnu Abi ‘Ashim, no. 1036.Lihat pula al-Mlsykah, no. 3694 dan Shahihul Jami’, no. 1724)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (r.a.) berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang taat kepadaku, sungguh dia telah taat kepada Allah. Barangsiapa yang derhaka kepadaku, sungguh dia telah derhaka kepada Allah. Barangsiapa mentaati amir (penguasa), sungguh dia telah taat kepadaku. Dan barangsiapa yang menderhakai (menentang) kepada amir sungguh dia telah derhaka kepadaku.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 7137; Muslim, no. 1835; an-Nasa’i, no. 4204, 5525, dari Abu Hurairah r.a.)

Dari Ibnu ‘Umar r.a., bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (terhadap pemerintah) pada apa yang ia suka atau pun yang ia benci, kecuali jika diperintah (untuk) berbuat maksiat. Jika diperintah untuk bermaksiat, maka tidak (boleh) mendengar dan taat (tidak melakukan kemaksiatan yang diperintahkan).” (Muttafaqun ‘alaihi, Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 7144; Muslim, no. 1839. Yakni tidak mendengar dan tidak taat dari perkara maksiat yang diperintahkan itu saja. Bukan bererti tidak mendengar dan tidak taat secara total atau memberontak. Perhatikan hadis-hadis berikutnya)

Dan Ibnu ‘Abbas , bahwa Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya suatu kerusakan/ kezhaliman) hendaknya dia bersabar. Kerana barangsiapa yang memisahkan din dan jama’ah (pen guasa) sejengkal saja kemudian mati, maka matinya (di atas) jahiliyyah’. (Muttafaqun ‘alaihi, Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 7054; Muslim, no. 1849)

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

Akan ada sepeninggalanku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaitan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatinya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “(Hendaknya kau tetap) mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, (tetap bersikaplah) mendengar dan taat!’. (Hadis Riwayat Muslim, no. 1847)

Dari ‘Adi bin Hatim berkata: Kami bertanya:

“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (pen guasa) yang bertaqwa, akan tetapi bagaimana dengan (penguasa) yang berbuat (demikian) dan yang berbuat (demikian), ‘Adi bin Hatim menyebutkan beberapa perbuatan jahat (penguasa tersebut – pent.), maka Rasulullah bersabda: Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada mereka). (Hadis Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim)

Dan Ummu Salamah berkata, bahawa Rasulullah bersabda:

‘Akan ada sepeninggalanku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa membencinya (bererti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa mengingkarinya (bererti,) dia telah selamat. Akan tetapi barangsiapa yang meredhainya kejahatannya, akan mengikutinya. Para sahabat bertanya:

“Wahai Rasulullah, Apakah tidak kita perangi saja mereka?” Beliau menjawab:

“Jangan, selama mereka masih menegakkan solat.” (Hadis Riwayat Muslim, 1854)

Dan dari sahabat ‘Auf bin Malik al-Asyja’i dengan lafazh:

‘Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang? Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka masih menegakkan solat di tengah-tengah kalian.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 1855)

Demikian dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan wajibnya taat kepada pemerintah dan larangan untuk memberontak kepada mereka bagaimanapun keadaan mereka: penguasa yang adil mahupun penguasa yang zalim, selama belum tampak pada mereka kekufuran yang nyata. Di atas prinsip ini pulalah aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka selalu berpegang kepada nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah dan tidak pernah keluar sedikitpun. Mereka sentiasa berjalan dan beredar sesuai dengan dalil-dalil tersebut. Apa yang ditunjukkan oleh dalil tersebut, mereka imani, mereka yakini dan mereka amalkan. Adapun yang tidak ditunjukkan oleh dalil al-Qur’an mahupun as-Sunnah mereka buang jauh-jauh. Sehingga aqidah mereka selamat dari perselisihan, bahkan aqidah mereka satu, jama’ah mereka satu, kerana Allah telah menjamin dengan kesatuan kalimat, kesatuan manhaj, dan keselamatan aqidah bagi barangsiapa yang berpegang teguh dan sentiasa bertepatan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah s.w.t. berfirman:

“Berpegangtegulah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Ali ‘Imran, 3: 103)

“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Dan jangan kalian ikuti as-Subul (jalan-jalan) yang menyebabkan kalian berpecah dari jalan-Nya.” (al-An’am, 6: 153)

Kerana itu mereka dinamakan sebagai al-Firqatun Najiyah, sebagaimana hal ini telah dipersaksikan oleh Rasulullah di dalam sabdanya:

“Ketahuilah bahawa Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah belah menjadi 72 golongan, dan bahawa umat ini juga akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 di antaranya masuk neraka. Dan satu golongan di dalam syurga, yakni Al Jam’ah’.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 4597. ad-Darimi, 2/241. Ahmad, 4/102. dan juga al-Hakim, 1/128. al-Ajurri di asy-Syari’ah, 17. Ibnu Baththah di al-Ibanah, 2/108/2, 119/1. al-Laalika’i di syarhus Sunnah, 1/23/1.

Dalam riwayat lain:

“Para sahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas apa yang pada hari ini aku dan para sahabatku menjalaninya. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam Sunannya, 2641. al-Hakim di al-Mustadrak, 1/128-129. Ibnu Wadldlah di al-Bida’, 92. al-ajurri di al-Arba’in, 143, dan di asy-syari’ah, 15-16. Dan juga selain mereka)

Merekalah ath-Thaifah al-Manshrah yang dikhabarkan oleh Rasulullah di dalam sabdanya:

“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang (thaifah) yang selalu berjalan di atas al-Haq, tidak akan menyusahkan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mau menolong) mereka sampai datang keputusan Allah (hari kiamat – pent)”. (Hadis Riwayat al-Bukhari & Muslim)

Inilah aqidah, prinsip dan syi’ar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam bersikap terhadap penguasa atau pemerintah.

Categories: 1
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s